Selasa, 24 April 2018

Selalu Bersyukur di Setiap Kondisi


            Lelah? Jujur iya, siapa yang tidak. Karena selama manusia hidup di dunia pasti akan merasakan lelah. Lelah terhadap rutinitas pekerjaan, lelah menghadapi orang-orang yang tidak selalu menyenangkan, lelah terhadap usaha-usaha yang belum membuahkan hasil seperti yang diinginkan, lelah dengan lelah itu sendiri. Selalu ada saja menemukan alasan yang membuat kita merasa lelah. Rasa lelah itu pun tidak luput melingkupi pekerjaan semua orang termasuk seorang guru. Lelah dengan tumpukan koreksian, lelah dengan permasalahan anak didik yang beragam, lelah dengan deadline pekerjaan, lelah dengan semuanya.
Namun pernahkan sedetik saja terbersit oleh kita, bahwa pekerjaan yang kita jalani sekarang ini adalah impian bagi orang lain. Tidakkah pantas kita senantiasa memanjatkan syukur bahwa kita adalah orang yang dipilih untuk menjalani pekerjaan ini dan bukan hanya memimpikan pekerjaan ini. Itu hanya satu sudut pandang dimana sebenarnya kita orang beruntung dan sudah semestinya kalau kita mensyukurinya.
Tanpa menafikkan pekerjaan-pekerjaan yang lain, profesi mengajar ini sangat menarik, menantang, menjanjikan dan banyak menyediakan ladang amal kebaikan. Bagaimana tidak, yang dihadapi seorang pengajar adalah sebuah generasi. Yang dicetak dan dibentuk oleh seorang guru adalah manusia-manusia yang kelak akan memimpin peradaban. Jadi tantangannya sangat berbeda dengan mencetak kertas, jelas tidak sama dengan membentuk patung. Anak didik bukanlah benda mati yang kalau kita salah mencetak atau membentuknya tinggal dibuang dan diganti yang baru. Anak didik kita adalah manusia utuh yang harus hati-hati sekali dalam menanamkan konsep hidup yang benar. Karena sekali salah dalam mencetak dan membentuk karakternya maka akan susah sekali memperbaikinya. Sebab manusia bukan program komputer yang tinggal install ulang saja, selesai permasalahan. Membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang konstan dan terus menerus. Satu lagi alasan untuk selalu bersyukur, bahwa yang seorang guru lakukan itu sungguh istimewa. Bersyukurlah, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, seistimewa kesempatan seorang guru.
Bersyukur untuk setiap kondisi, apapun dan bagaimana pun, karena yang terjadi pada kita adalah hal terbaik yang harus dijalani. Dibalik jerih dan lelah  pasti ada hikmah yang akan membahagiakan kita kelak di kemudian hari. Dan ketika masa itu tiba maka segala perih dan payah yang selama ini dilalui seakan menguap begitu saja menjadi tiada arti, seakan tidak pernah terjadi. Ketika tiba di titik itu yang dirasa hanya rasa syukur tiada henti, bersyukur karena telah senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan. Bersyukur karena tidak lupa untuk senantiasa bersyukur.

Sebagaimana yang Allah katakan dalam Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.” Jadi marilah kita senantiasa menjadi pribadi yang bersyukur dalam setiap apapun keadaan kita karena dibalik yang menurut kita sebagai musibah ada banyak kebaikan berlipat-lipat bagi kita. Apalagi untuk hal menyenangkan yang kita alami, alangkah tidak tahu dirinya kita sebagai hamba apabila sampai melupakan untuk bersyukur. Karena sejatinya kelelahan yanh kita alami hanyalah sementara yang akan tergantikan dengan kenikmatan tiada tara apabila kita ikhlas menjalaninya Lillahi ta’ala. Semoga kita termasuk pribadi yang bersyukur. Aamiin. (Imalia Din Indriasih)

Senin, 23 April 2018

K.A.M.U.



          Mau menuliskan saja tentang kamu, mulai menulis saja dulu adapun alurnya, klimaksnya dan endingnya lihat saja nanti. Sampai pada kalimat ini belum tahu akan jadi seperti apa tulisan ini. Bahkan untuk mampu pun aku tak yakin. Karena hanya satu yang kutahu, it’s a will not a skill, yang menentukan itu kemauan bukan semata kemampuan. Seseorang entah siapa pernah mengatakan berhasil itu 99% kemauan dan 1% kemampuan. Maka yakinku adalah aku mampu menuliskan tentang kamu karena aku mau menuliskan tentang kamu. Let’s see…
          Bisa kita mulai dari siapa sih kamu? Kamu adalah seseorang atau beberapa orang yang sedang berkunjung ke tempat orang lain. Eh, itu tamu ding. Kalau kamu adalah minuman kesehatan dari bahan tradisional yang rasanya biasanya pahit. Eh bukan, itu jamu. Kamu itu adalah kata benda yang terbentuk dari kata kerja yang diakhiri dengan ing. Apaan sih, kenapa jadi sampai membahas gerund? Kejauhan.  Okay, lupakan tentang mendefinisikan kamu, toh aku tidak harus mengerti tentang kamu untuk bisa menuliskan kamu. Aku hanya harus memberanikan diri menuliskan kamu meski aku tak bisa memahamimu. Bisa diterimakah alasanku? Iyakan saja, biar kita bisa melanjutkan pada paragraf berikutnya.
          Here we are, tidak terasa sudah tertuliskan sampai pada paragraf ketiga tulisanku tentang kamu. Normalnya diparagraf ketiga biasanya mulai muncul permasalahan signifikan yang ingin disajikan dalam sebuah tulisan. Dan bagiku yang paling ingin aku perlihatkan tentang kamu adalah bahwa aku sedang menuliskan kamu, iya kamu, bukan kamu, tapi kamu, nah! Kamu!. Paham maksudku? Siapa saja bisa merasa sebagai obyek tulisan ini, tapi yang paling tahu yang sebenarnya hanyalah penulisnya. Maka kamu tetaplah menjadi kamu, kamulah yang menentukan siapa kamu. Karena bagaimanapun aku menuliskan tentang kamu, kamu adalah kata ganti orang kedua tunggal/jamak yang diajak bicara, disapa (dalam ragam akrab atau kasar), nah itu baru benar pengertian kamu menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). 
          Dan karena kamu bukan kamu(s) maka jangan pernah mengartikan apa-apa. Tugas untuk menterjemahkan, mengartikan, mendefinisikan sudah dari sejak zaman dahulu kala diemban oleh KAMUS bukan KAMU. So, please STOP mengartikan tulisanku, karena nanti KAMUS jadi tidak ada kerjaan, eh.
          Well,  bagusnya bagaimana ya ending tulisan tidak jelas ini?.  berbicara tentang jelas, jelas mana jelas aku mau menyeduh kopi. Oh itu gelas, maklum kalau keduanya sering bias karena jelas dan gelas (kopi) sama-sama menjernihkan keruhku. Ketemu! Akhirnya setelah meneguk kopiku pagi ini, kutemukan bagaimana mengakhiri tulisan tentang kamu. Ambil hikmahnya saja, iya hikmah dari tulisan ini, dari sekian kata yang berserak menyusun paragraf tentang kamu, ambil yang manfaat dan buang yang tidak memberikan manfaat. Karena  itu inti dari semua ini, jadilah kamu orang yang banyak memberikan manfaat bagi orang lain. (Tulisan ini untuk kamu, iya kamu, orang yang berdiri dihadapanku tatkala aku tengah bercermin). THE END…


*) Kebiyasaaaaaaannnnn.... kalok abis nulis banyak tulisan serius, nongol tulisan gaje gini.... Demikiyan Arab Maklum
         

          

Jumat, 20 April 2018

Tantangan Pendidikan Islam Masa Kini


*) Diterbitkan di majalah Adzkia Indonesia Edisi 86 Maret 2017

            Berbicara mengenai tantangan, kita harus memahami terlebih dahulu bagaimana kondisi riil di lapangan sehingga kita bisa menjawab tantangan menjadi kesuksesan. Baiklah kita mulai dengan memetakan persoalan yang tengah kita hadapi di kota kita tercinta, Purwokerto. Sebenarnya kita sudah terkepung oleh sebuah situasi tanpa pernah kita menyadarinya, berikut adalah data tentang kota Purwokerto yang bersumber dari data BNN. Fakta pertama, Purwokerto adalah kota kedua terbesar di Jawa Tengah setelah Semarang dalam hal peredaran narkoba. Analisisnya, dikarenakan di Purwokerto ada Universitas Negeri dimana banyak pendatang dari kota besar.  Selisih harga penjualan narkoba di kota besar lumayan besar, sehingga bandar lebih suka menjualnya di Purwokerto daripada di kota besar, sebagai gambarannya satu gram sabu dijual satu juta rupiah di Jakarta tapi di Purwokerto harganya hampir dua kali lipatnya. Fakta kedua, Purwokerto merupakan urutan dua terbesar dalam jumlah penderita HIV AIDS.
            Fakta lain dari kondisi terkini adalah, sekitar dua tahun yang lalu pernah ada beberapa anak SMP Islam ternama di Purwokerto yang sebenarnya kesalahan mereka hanya keluar malam dan bermain di rental musik, tetapi yang terjadi setelah itu adalah mereka dipaksa masuk ke diskotik salah satu hotel berbintang dan dipaksa menenggak minuman keras disana. Bisa jadi anak-anak yang itu adalah anak-anak yang kita kenal, tetangga kita, murid-murid kita, anak teman kita, teman anak kita atau bahkan anak-anak kita sendiri. Lantas sejauh mana kepedulian kita terhadap fenomena ini. Apa yang sudah kita lakukan untuk menyelamatkan generasi penerus bangsa. Karena seperti yang sudah dipaparkan fakta-fakta diatas arus negatif itu banyak menyerang generasi muda kita yang notabene masih berstatus pelajar. Apakah kita merasa tertantang dengan kondisi tersebut?
            Kecenderungan pelajar sekarang untuk mengikuti trend yang negatif memang cukup tinggi. Salah satu bukti dari keberhasilan ghozwul fikr, yang merusak pikiran pelajar kita sehingga menganggap bahwa budaya yang sudah jauh dari nilai-nilai agama itu dianggap biasa. Motivasi positif yang sangat rendah dari diri pelajar ini membuat siswa kehilangan value yang coba ditanamkan oleh pendidikan di sekolah, nilai guru dimata siswa semakin rendah yang efeknya penghargaan dan penghormatan siswa terhadap gurunya sangat rendah.
            



Kondisi yang seperti itu diantaranya disebabkan oleh lingkungan pembentuk karakter anak. Yang pertama adalah lingkungan yuridiksi sekolah, dimana waktu anak lebih banyak di sekolah dibandingkan dengan di rumah. Sehingga sekolah turut menyumbangkan peran dalam membentuk karakter anak. Yang kedua yuridiksi rumah, biasanya anak yang mempunyai masalah di rumah (broken home), orang tua yang terlalu sibuk, dan juga pola asuh yang terlalu memanjakan anak adalah faktor pembentuk karakter negative pada diri anak. Ketiga yuridiksi negara (Public Area Space), sejatinya inilah yang melatarbelakangi negara untuk mengambil kebijakkan perubahan kurikulum, yakni kondisi kontemporer yang kita hadapi sekarang. Dan karenanya dalam rangka menjawab tantangan kondisi terkini, dunia pendidikan harus menyiapkan strategi yang jitu dan mengena tepat sasaran. Dan apakah strategi untuk menjawab tantangan itu?
            Kita fokuskan pada tugas-tugas kita sebagai seorang pendidik, pertama disiplin dalam menegakkan aturan dan tata tertib yang sudah disepakati bersama. Kedua, menguatkan aqidah anak dengan memaksimalkan pembelajaran integratif dimana semua materi dalam kegiatan pembelajaran dikaitkan dan disampaikan dengan sudut pandang Al Quran dan Hadist. Contoh: pada saat menyampaikan materi IPA tentang terjadinya hujan kita menjelaskan pula bahwa proses tersebut dijelaskan juga dalam Al Quran, Menurut Al-Qur'an dalam surat Ar-Rum ayat 48, proses terjadinya hujan terdiri dari tiga tahapan. "Dialah Allah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka apabila hujan turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki, tiba-tiba mereka menjadi gembira."
Ketiga, membangun pembiasaan dan lingkungan yang positif, dengan biah-biah yang mungkin pada awalnya ada kesan dipaksakan kepada siswa akan tetapi dengan memaksakan kegiatan baik ini maka pola yang terus menerus ini akan menjadi karakter. Contoh: buku mutabaah yang berisi: pantauan sholat lima waktu dan sholat sunah, tahsin dan tahfidz, shoum sunah, dll. Keempat, membangun kerjasama dan komunikasi yang baik dengan orang tua atau wali murid guna kesinambungan antara pendidikan yang diberikan di sekolah dengan di rumah sehingga tidak bertentangan satu sama lainnya. Keempat hal diatas adalah semangat yang ditiupkan oleh struktur kurikulum 2013.
            



Hal berikutnya yang harus kita laksanakan untuk menjawab tantangan pendidikan yang sekarang adalah dengan menjawab semua tantangan itu dengan pendidikan Islam. Karena Islam itu sempurna, dan melingkupi semua aspek kehidupan manusia oleh karenanya tidak ada permasalahan apapun yang tidak bisa diselesaikan oleh Islam. Untuk menunjukkan kepedulian kita bahwa kita memang ingin berbuat sesuatu atas kondisi memprihatinkan generasi penerus bangsa adalah dengan memperkuat sekolah-sekolah Islam. Karena di dalamnya diberikan penanaman nilai-nilai Islam. Merupakan tempat mempelajari Al Quran, dari tingkat membaca, memahami sampai mengamalkannya. Sekolah Islam merupakan tempat untuk belajar tentang kebenaran dan akhlaqul karimah.
            Kemudian sampailah kita pada pertanyaan apa yang akan dihadapi oleh pendidikan Islam ketika ia mencoba menyelamatkan degradasi moral generasi bangsa? Ya akan menjadi kerja yang sangat berat bagi semua komponen yang terlibat didalamnya. Karena tantangannya bisa dari luar, bisa berupa serangan-serangan yang melumpuhkan dan membunuh pertumbuhannya. Atau juga dari dalam, berupa ketidakpercayadirian dan ketidakberanian dalam menerapkan nilai-nilai Islam dengan tegas karena takut dianggap beda atau justru sebaliknya sikap sombong karena merasa mempunyai keunggulan dibandingkan dengan lainnya. Tetapi apapun itu dunia pendidikan Islam telah menemukan geliatnya, dan Insyaallah inilah yang kita tunggu untuk menjawab persoalan terkini yang banyak kita hadapi.  (Imalia Din Indriasih) 


Momentum Bulan Bahasa Giatkan Budaya Literasi Sekolah


*) Dimuat di Majalah Adzkia Indonesia Edisi 100 Oktober 2017

Pemikiran yang baik harus dikomunikasikan dengan efektif ke khalayak luas agar dapat dirasakan manfaatnya oleh orang banyak. Ide, gagasan serta opini yang positif ini bisa dituangkan diantaranya dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca oleh publik. Semakin sering ide-ide inspiratif yang dituangkan ke dalam bentuk tulisan akan semakin tajam nilai positif yang dibawanya, apalagi kalau tulisan-tulisan tersebut bisa di publikasikan melalui media yang tepat dengan sasaran yang tepat pula.
Akan sangat disayangkan jika banyak orang-orang baik dengan pemikiran yang positif akan tetapi tidak dapat menuangkan gagasannya karena sebuah sumbat yang terlalu klise untuk dibahas dan hal klise ini bukannya tanpa solusi sebenarnya. Katup yang menyumbat ini kita sebut saja sebagai kurang membudayanya sebuah kebiasaan yakni budaya literasi. Pendefinisian budaya literasi disederhanakan menjadi kemampuan membaca dan menulis masyarakat di suatu Negara.
Budaya membaca dan menulis inilah yang dirasa masih jauh dari kata ideal di masyarakat kita. Dimana kecenderungannya masyarakat lebih menyukai aktifitas menonton atau mendengarkan daripada kegiatan membaca dan menulis. Kondisi yang seperti ini kita tidak dapat menjatuhkan kesalahan seratus persen kepada masyarakat Indonesia secara umum, karena keadaan kurangnya budaya literasi di masyarakat berlangsung sekian lama di masyarakat kita. Yang kalau mau dikaji lebih mendalam banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, diantaranya pengaruh penjajahan yang menduduki Indonesia lebih dari 3,5 abad lamanya, dimana para penjajah tetap menginginkan masyarakat kita jauh dari literasi jauh dari budaya baca dan tulis demi kepentingan mereka di bumi nusantara. Sementara kita baru merdeka selama 72 tahun sebuah perbandingan yang sangat jomplang, 3,5 abad berbanding 72 tahun.
Menumbuhkan budaya literasi di masyarakat yang kurang mengenal budaya ini tentu merupakan tantangan tersendiri, namun bukannya tidak mungkin. Seperti sempat disinggung diatas, permasalahan kurangnya budaya membaca dan menulis ini bukannya tanpa solusi. Apalagi di dunia pendidikan, seharusnya budaya literasi ini menjadi karakter yang menjiwai ruh pendidikan di Indonesia. Demikianlah kondisi ideal yang seharusnya dicapai. Karena  di dunia pendidikanlah awalnya dikenalkan melek literasi, dan di dunia pendidikanlah kemampuan membaca dan menulis terus dibangun serta dibina kepada seluruh komponen di dunia pendidikan. Terutama kepada peserta didik dan guru-gurunya, namun tidak menutup kemungkin an juga menyasar kepada walimuridnya atau karyawannya serta semua orang yang terkait dengan dunia pendidikan.
Berangkat dari hal inilah maka keinginan untuk membangun budaya literasi seharusnya sudah menjelma menjadi langkah nyata dan bukan hanya di dataran yang diwacanakan saja. Menantang memang karena yang harus dibangun dan ditumbuhkan pertama kali adalah kesadaran manusianya akan pentingnya serta manfaatnya dari membaca dan menulis. Baru setelah kesadaran itu tumbuh maka akan lebih mudah untuk membudayakan membaca dan menulis di masyarakat, termasuk di dunia pendidikan.
Meski demikian kesadaran akan pentingnya literasi ini juga bisa diawali dengan memastikan wadah untuk menyalurkan potensi membaca dan menulis ini cukup tersedia. Saluran-saluran inilah yang bisa kita usahakan untuk dijadikan pijakan awal untuk membangun sebuah budaya yang menggambarkan sudah tingginya peradaban manusia yakni budaya membaca dan menulis. Dimana budaya membaca dan menulis bisa disalurkan melalui media yang tepat dan efektif. Pada masa globalisasi sekarang ini tidaklah sulit karena hampir semua media bisa diakses dan dijangkau oleh khalayak luas.
Jadi sebagaimana membaca, menulis juga merupakan sebuah proses, yakni proses merubah sebuah pemikiran yang hanya ada di kepala penulisnya kedalam bentuk tulisan sehingga bisa diketahui khalayak.
Keduanya baik membaca ataupun menulis, keduanya saling terkait, kemampuan menulis seseorang biasanya dipengaruhi dari kebiasaan membaca. Semakin suka seseorang untuk membaca maka akan semakin lancar dalam menuangkan ide atau gagasannya ke dalam sebuah tulisan. Dalam dunia pendidikan membaca dan menulis merupakan kompetensi yang dikembangkan dalam pembelajaran bahasa. Membaca dan menulis merupakan bagian dari kompetensi dasar mata pelajaran bahasa Indonesia selain berbicara dan mendengarkan. Yang sebenarnya keempatnya juga saling mempunyai keterkaitan. Namun karena obyek dari artikel ini adalah pada budaya literasi maka di fokuskan pada membaca dan menulis saja.
Disekolah banyak sekali kegiatan yang ditujukan untuk mengangkat kemampuan membaca dan menulis baik bagi peserta didik maupun bagi guru, baik didalam intrakurikuler maupun ekstra kurikuler. Namun seperti yang dikemukakan dilatar belakang permasalahan bahwa membaca dan menulis ini belum menjadi budaya, belum sampai pada taraf pembiasaan yang mengkarakter di lingkungan sekolah. Maka inilah “pekerjaan rumah” yang harus segera dicarikan pemecahannya, yakni bagaimana membangun budaya literasi di lingkungan sekolah.

Menyadari kondisi akan pentingnya membangun budaya literasi dilingkungan sekolah ini maka perlu dilakukan beberapa hal untuk mencapainya. Sebenarnya banyak yang bisa dilakukan seperti menyelanggarakan madding, lomba literasi antar kelas, pertunjukan rutin kebahasaan, dan lain sebagainya. Kesimpulannya solusi dari permasalahan ini adalah dengan menjadikan membaca dan menulis sebagai sebuah budaya dengan memanfaatkan semua media, sarana dan prasarana dan memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah. seperti majalah sekolah, web sekolah, majalah dinding, kegiatan pembelajaran yang berbasis literasi, kunjungan perpustakaan, kegiatan bulan bahasa, lomba-lomba kepenulisan, pelatihan kepenulisan, dan lain sebagainya. Memanfaatkan momentum bulan Oktober sebagai bulan Bahasa maka saluran-saluran untuk menampung budaya literasi di sekolah mulai di gelontorkan. Dengan wadah-wadah yang  berkesinambungan inilah diharapkan budaya literasi menjadi karakter kepribadian kita semua. Aamiin. (Imalia Din Indriasih)

Mengajari Anak Bersosialisi


*) Diterbitkan di Majalah Adzkia Indonesia Edisi 90 September 2017

Pertama harus kita sadari bersama bahwa anak-anak kita bukan orang dewasa dalam bentuk mini, jadi jangan pernah samakan mereka dengan kita, mereka tidak punya cara pikir yang sama dengan orang dewasa, anak-anak memiliki dunia dan pemikirannya sendiri. Berangkat dari kesadaran inilah maka tips parenting ini bisa dikembangkan lebih jauh lagi. Berikutnya adalah memahami akan pentingnya sosialisasi bagi anak-anak kita, mengapa sosialisasi itu penting bagi anak-anak kita. Jawaban dari pertanyaan inilah yang akan membuat kita sebagai orang tua, mau tidak mau harus memberikan perhatian lebih untuk mengajari anak-anak kita tentang keterampilan bersosialisasi dengan lingkungannya. Sosialisasi menjadi penting bagi anak karena yang menyumbangkan porsi paling besar dalam kesuksesan seseorang dalam kehidupannya adalah keterampilan sosialisasi dan kemampuan mengelola emosi bukan kemampuan akademisnya.
Dalam kerangka berpikir inilah maka muncul tips-tips dalam membekali anak-anak kita keterampilan bersosialisasi. Bagaimana sikap terbaik kita sebagai orang tua ketika menghadapi anak-anak dengan berbagai persoalannya. Satu contoh kasus yang dilontarkan oleh salah satu kakak dari siswa mengenai adiknya yang sangat cerewet di rumah akan tetapi ketika sudah diluar rumah menjadi sangat pendiam dan introvert. Mungkin kita pernah menemui kasus yang sama dengan siswa yang lainnya juga. Bisa jadi perbedaan sikap antara ketika di rumah dan di luar rumah ini dikarenakan anak merasa tidak percaya atau merasa tidak aman ketika berada di luar rumah maka yang sebaiknya orang tua atau keluarga lakukan adalah melatih anak untuk berani dan mandiri.
Salah satu cara melatih keberanian dan kemandirian anak adalah sedari kecil biasakan anak untuk membantu pekerjaan rumah, bukan sebaliknya justru malah dilarang. Biasanya sebagian dari kita cenderung untuk melarang ketika si kecil dengan rasa ingin tahu, penasaran, dan ingin mencoba yang tinggi mulai pegang sapu, mendekati wastafel, menata-nata meja makan dan lain sebagainya, karena khawatir justru akan membuat pekerjaan jadi lebih berantakan. Namun akibatnya karena dari kecil sudah sering tidak dibolehkan membantu pekerjaan, maka ketika besar orang tua meminta anak untuk membatu pekerjaan rumah, anak akan cenderung menolak. Jadi kuncinya ada di pola pembiasaan.  Implikasi lainnya adalah ketika di rumah rasa ingin tahu, rasa penasaran dan rasa ingin mencoba yang secara naluriah mulai muncul dianak usia tertentu tidak dapat dipenuhi di dalam rumah maka secara otomatis anak akan mencarinya di luar rumah, mencari tahu dari teman-temannya yang juga sama-sama tidak tahu.
Kuncinya di pola pembiasaan yang harus kita praktikan kepada anak-anak untuk mengembangkan ketrerampilan sosialnya. Contoh konkretnya adalah respon kita ketika anak kita mengacaukan sesuatu, memecahkan vas misalnya. Kira-kira respon apa yang akan dilakukan oleh orang tua? Apakah A. memarahi anak, B. “Ya sudah deh, lain kali hati-hati ya”, C. Menanyakan Kenapa?, D. Menanyakan apa yang terjadi?. Mari kita bahas satu persatu, memarahi anak jelas tidak ada gunanya, tidak akan mengubah sedikitpun apa yang sudah terjadi, bahkan bisa melukai jiwa anak. Bersikap permisif, “ya sudahlah, lain kali hati-hati ya”, juga tidak akan membuat anak akan berhati-hati ke depannya. Lantas respon apa yang sebaiknya kita berikan? Yang harus kita lakukan adalah menanyakan kepada anak apa yang terjadi? Tadi ceritanya bagaimana? Jangan tanyakan “Kenapa?” karena kalau kita terbiasa menanyakan anak dengan “Kenapa?” maka akan membuat anak-anak kita mencari-cari alasan untuk pembelaan diri dan pembenaran dirinya, pertanyaan ini membentuk karakter anak yang berapologi.
Berbeda jika kita menanyakan pertanyaan “Apa yang terjadi?” maka anak akan belajar untuk mengambil hikmah, apa yang bisa dipelajari dari kejadian tersebut dan kedepannya apa yang sebaiknya dilakukan. Misalnya, memecahkan vasnya karena sedang memakai baju sambil berjalan. Nasihat “lain kali hati-hati ya” bisa diganti dengan “Berjanjilah pada dirimu sendiri bahwa kedepan tidak diulangi lagi memakai baju sambil berjalan”. Kesadaran dan komitmen anak lah yang sedang dibangun disini. Kesadaran dan komitmen anak bisa dilatih dengan cara sering menanyakan pendapat anak, missal dalam kasus tadi, menurutmu bagaimana memakai baju sambil berjalan? Terus sebaiknya menurutmu kedepan harus bagaimana supaya tidak terulang lagi? biarkan anak melogiskan sendiri nasihat yang kita sampaikan.
Jadi kembali lagi ke poin awal, selalulah menggunakan sudut pandang anak dalam menyelesaikan setiap permasalahan anak. Selanjutnya kita sebagai orang tua juga harus menyadari bahwa orang tua menjadi model bagaimana anak-anak kita bersosialisasi, contoh yang diberikan orang tualah yang membentuk keterampilan sosialisasi pada anak. Salah satu kiatnya adalah dengan sering-sering mengajak anak di acara-acara umum, seperti arisan, silaturakhim, family gathering kantor dan lain sebagainya. Jangan pernah khawatirkan anak akan membuat kacau atau melakukan sesuatu yang memalukan orangtua. Bisa kita jelaskan dan brifing terlebih dahulu anak-anak tentang acara yang akan dikunjungi, dibuat kesepakatan dengan anak, dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawaban mereka melogiskan nasihat kita.
Sebenarnya cara kita memperlakukan anak sangat terkait dengan pola asuh, dimana pola asuh secara umum dibagi kedalam tiga, yakni 1) Permisif, yaitu pola asuh yang cenderung membiarkan, membolehkan semuanya, 2) Otoriter, yaitu pola asuh yang semua-semua serba dilarang, banyak aturan tanpa pelogisan, 3) Demokratis, yaitu pola asuh yang melibatkan anak, kita bicarakan terlebih dahulu dengan anak. Dan pola asuh kita sebaiknya menyesuaikan kebutuhan yang dibutuhkan anak pada saat dimaksud.
Kiat berikutnya untuk melatih keterampilan anak adalah dengan permainan group. Setiap generasi mempunyai ciri khas permainannya sendiri,  generasi kita dulu punya permainan-permainan khusus yang mencirikan zamannya. Namun permainan group ini masih relevan dimainkan dari generasi ke generasi. Dalam permainan grup ini anak bermain peran ada yang berperan sebagai polisi dan ada yang berperan sebagai penjahat. Dalam permainan ini anak dibuat mengerti dan memahai bahwa polisi tidak boleh kalah dari penjahat, di kehidupan nyata kebaikan harus selalu mengalahkan kejahatan, kemudian penjahat harus menerima hukuman kejahatannya, dikehidupan nyata jika ada yang berbuat salah maka akan ada konsekuensinya.
Yang tak kalah pentingnya adalah perhatian orang tua untuk memastikan setiap anak mempunyai kemampuan untuk diterima dengan baik oleh teman-temannya, karena kalau kemampuan ini tidak dimiliki oleh anak maka ia tidak mempunyai teman. Dan supaya dia mempunyai teman maka anak akan “membeli” teman, kalau anak tersebut memiliki materi maka ia akan “membeli” temannya dengan materi, namun jika tidak memiliki materi maka si anak ini akan bersedia melakukan apa saja untuk biasa masuk ke pertemanan agar ia mendapatkan teman. Inilah cikal bakal anak-anak kita bergabung dalam “genk”, dia akan melakukan apa saja yang disyaratkan untuk masuk ke dalam “genk” tersebut.
Sebagai orang tua siswa baru yang baru masuk SD kita juga harus “tega” dengan anak, untuk hal-hal yang prinsip, seperti ketika anak mogok tidak mau sekolah karena alasan tertentu, maka sikap kita tetap “memaksa” anak kita untuk berangkat sekolah, dan percaya sepenuhnya kepada sekolah ketika mengantar dan meninggalkan anak, sekolah punya cara untuk membentuk sosialisasi siswa. Tentu dengan tetap adanya dukungan dan pendampingan dari oarng tua di luar sekolah, ketika anak kita ada masalah maka kita ajari dia untuk menyelesaikan masalahnya, bukan lari darinya. Misal, anak ada masalah dengan teman, di pukul teman atau di mintai uangnya oleh teman. Maka ajari cara untuk menyelesaikan masalahnya.
Sedikit berkilas balik kebelakang dizaman kita sekolah dulu, kalau ada anak yang mengadu ke orang tua atau guru maka kita akan diolok-olok teman-teman sebagai tukang ngadu akibatnya kita dijauhi teman-teman karenan dianggap pengadu. Namun seiring perubahan zaman budaya itu sudah tidak ada lagi. menceritakan pada guru atau orang tua apabila ada masalah dengan teman bukan hal yang menakutkan lagi untuk anak sekarang, maka buatkah anak-anak kita nyaman untuk menceritakan setiap masalahnya. Untuk contoh kasus permasalahan diatas, anak kita bisa kita ajari cara menjawab temannya yang suka meminta-minta uang anak kita, misalnya begini “kamu tidak aku kasih uangnya tapi yuk kita belajar bersama, kamu aku ajari matematika” misalnya.
Dan untuk anak-anak yang sulit menceritakan masalahnya dengan kata-kata, media tulis bisa dijadikan sarananya. Minta anak untuk menuliskan apa yang ia rasakan. Jadikan kita tempat yang nyaman untuk anak menumpahkan dan menceritakan semua unek-uneknya. Tetap tegas dan konsisten dengan hal-hal prinsipil, karena sekali saja kita bersikap permisif maka kita akan kehilangan kontrol atas anak kita.
Ingat! Memarahi anak tidak akan membuat anak menurut, semakit sering dimarahi justru akan membuat anak semakin kebal dan membangkang. Bahkan kondisi ekstrim bisa menumbuhkan dendam, kondisi psikologis yang ekstrim pernah terjadi seorang anak yang membantai ibu, bapak dan kakaknya, karena seharian dimarah-marahi. Untuk menghindari hal ini terjadi kalau sudah terlanjur terjadi kita menyelesaikan permasalahan dengan marah maka tidak ada salahnya kita minta maaf. Dan lihat betapa ampuhnya kata maaf ini.
Kesimpulannya secara keseluruhan, selalu dampingi anak di setiap masalahnya, pahamkan dan ajari anak berhadapan dengan berbagai jenis orang yang berbeda-beda, tanamkan keterampilan dasar dan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi. (Imalia Din Indriasih)


Translate